Wednesday, September 14, 2005
menangis seperti halnya tertawa dan gembira, merupakan luapan emosi nurani seseorang terhadap sesuatu yang dirasakan serta dialaminya yang sesungguhnya terkait dengan fitrah manusia. bila manusia tidak menangis, berarti dia mengingkari kodratnya sebagai mahluk Tuhan yang memiliki kelemahan, kekurangan dan ketidakberdayaan.
kita pasti menangis saat dikhianati dan disakiti orang-orang yang selama ini dianggap sebagai teman baik. kita meneteskan air mata kala sesuatu yang kita miliki dan sangat berharga dalam hidup ini hilang. dalam kondisi seperti ini, kiranya wajar buliran air bening keluar dari kelopak mata karena kepentingan duniawi. lalu kapan waktu untuk meneteskan air mata karena mengingat kebesaran, mensyukuri nikmat dan membayangkan betapa beratnya siksaan Allah SWT. di akherat kelak?
menangis terkadang diindentikkan dengan kecengengan,kerapuhan dan berbagai identitas yang dikaitkan dengan kelemahan jiwa. itulah sebabnya tangis sering dikesankan negatif. akan tetapi pada kenyataannya, linangan air mata kerap menjadi bagian dari proses penenangan jiwa. dalam tangis seseorang sering menemukan kepuasan dan kesyahduan.
"maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan" (QS At-Taubah:82)
agar kita lebih banyak meluangkan waktu untuk mengintropeksi diri dalam kehidupan dengan merenungi apa yang sudah kita lakukan. tidak perlu disesali bila dari hasil proses perenungan itu kita menangis karena menyadari betapa banyaknya kesalahan dan kesombongan diri ini, sehingga melupakan keberadaan Allah SWT. yang sejatinya memberikan kekuatan, anugerah dan rahmat.